outlet piumini Mempertanyakan Sistem Keamanan Bandara Soetta

woolrich shop online outlet Mempertanyakan Sistem Keamanan Bandara Soetta

Kemudian, pesawat Garuda Indonesia tergelincir di Landasan Bandara Udara Internasional Hasanuddin, Makassar. Dan, yang terbaru, insiden kebakaran di JW Sky Lounge di terminal 2E Bandara Internasional Soekarno Hatta pada Ahad 5 Juli 2015.

Insiden terbaru ini meski tidak menyebabkan korban jiwa, tetapi telah menyebabkan sekitar 4.500 penumpang penerbangan internasional dan domestik terlantar. Ribuan calon penumpang tertahan di Terminal 2 akibat terbakarnya Gate 3 keberangkatan Luar Negeri di Terminal 2E Bandara Soekarno Hatta.

Diperkirakan luas kerusakan mencapai 200 meter persegi dari total bangunan seluas 300 meter persegi di terminal 2E Bandara Soekarno Hatta. Garuda Indonesia mengalami kerugian besar akibat insiden tersebut.

Pusat check in Garuda Indonesia, yang letaknya persis di belakang JW Lounge, ikut terbakar. Semua sistem dan fasilitas check in Garuda Indonesia habis dilalap api.

Sejak peristiwa kebakaran JW Sky Lounge terjadi pada Minggu pagi pukul 05.50, setidaknya sudah ada 49 penerbangan internasional dan domestik Garuda Indonesia dibatalkan hingga Senin siang, 6 Juli 2015.

Peristiwa kebakaran ini juga menimbulkan pertanyaan besar terkait sistem keamanan Bandara Internasional Soekarno Hatta. Apalagi, kasus terbakar di Bandara Soekarno Hatta bukan kali pertama terjadi.

Kasus serupa sempat terjadi di gerai makanan cepat saji KFC pada 14 Agustus 2014. Juga, kebakaran di restoran Padang di areal parkir kargo yang diduga akibat kompor meledak pada 29 November 2008.

Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Arif Wibowo, mengatakan akibat peristiwa kebakaran tersebut pihaknya harus membayar kompensasi penumpang mencapai Rp4,9 miliar.

“Kalau dampak materialnya, kami belum menghitung. Untuk kompensasi penumpang saja kami harus mengeluarkan uang Rp4,9 miliar.

“Kebakaran ini mengirim sinyal tidak baik ke seluruh dunia. Sinyal itu harus ditutup dengan adanya renovasi serius dan menyeluruh terhadap sistem standar pengelolaan airport modern,” kata Fahri.

Perbaikan bandara, menurutnya harus permanen. Bukan tambal sulam yang terjadi belakangan ini. “Tradisi tambal sulam tidak baik. Airport harus terlihat permanen bersih dan kokoh,” katanya.

Selain itu menurut politisi PKS ini, bandara Soekarno Hatta sudah over kapasitas. Kondisi ini memberikan ketidaknyamanan bagi penumpang pesawat baik yang akan berangkat maupun baru tiba di bandara Soekarno Hatta.

Oleh karena itu dibutuhkan tata ulang kembali agar Bandara Soekarno Hatta bisa sesuai standar internasional.

Kementerian Perhubungan pun bergerak untuk memeriksa ulang standar keamanan outlet komersial yang ada. “Kita mulai hari ini akan memeriksa semua gerai atau outlet komersial itu, apakah memenuhi standar keamanan dan keselamatan yang diharuskan untuk gerai gerai komersial yang beroperasi di bandara,” jelas Menteri Perhubungan, Ignatius Jonan.

Dia mengatakan, dalam dua sampai tiga hari, Kementerian Perhubungan akan memberikan rekomendasi ke pengelola bandara Soekarno Hatta untuk diperbaiki guna mencegah kebakaran terulang kembali.

Angkasa Pura (AP) II mengaku akan melakukan audit internal di Bandara Soekarno Hatta untuk mengantisipasi agar kebakaran tidak terjadi lagi di area Bandara.

Direktur Operasional dan Teknik AP II, Djoko Murdjatmodjo, menyatakan ke depan pihaknya akan melakukan audit di seluruh bandara yang dikelola AP II.

“Ke depan kami sedang melakukan audit dengan konsesioner, dengan pihak komersil, kami akan melakukan audit internal, dan dalam waktu dekat akan ada penggantian jaringan listrik,” ujar Djoko.

Dia menjelaskan, jadwal penggantian jaringan listrik yang ada di terminal tersebut seharusnya dilakukan pada tahun depan. Namun dengan adanya kejadian ini, dia akan melakukan penggantian tersebut secepatnya.

“Sehingga ada instalasi baru, kami akan perbaiki juga menyusul dengan perluasan gedung terminal,” tambahnya.

Hingga kini masih belum bisa dipastikan apa penyebab dari kebakaran tersebut. Akan tetapi pihak berwenang melihat ada indikasi bahwa penyebab kecelakaan tersebut adalah dari sistem jaringan listrik.

Sementara untuk Standar Operasional Prosedur (SOP), dia mengaku Angkasa Pura II telah menerapkan dengan baik. Setiap tenant (penyewa), lanjutnya harus memiliki fasilitas standar keselamatan, seperti alat pemadam api ringan (APAR).

“SOP nya ada bahwa setiap tenant harus ada APAR. Dilarang menggunakan kompor minyak, kompor gas, harus kompor listrik,” kata dia.

Dijelaskannya, dalam audit nanti, untuk tenant yang tidak memilki standar sesuai SOP, AP II akan memberlakukan sanksi khusus, seperti peneguran bahkan penyegelan tenant.

Pengakuan Jonan patut diapresiasi. Akan tetapi, harus tegas pula dikatakan bahwa Jonan tidak bisa mencuci tangan dengan melemparkan seluruh kesalahan kepada pengelola bandara.
outlet piumini Mempertanyakan Sistem Keamanan Bandara Soetta